February 14, 2007

.: sepenggalah sifat ujub :.

Posted in oase at 6:24 am by budiiiiiiiii

kaligrafi3.jpg

Seseorang mungkin sdh bs menghindarkan diri dari sifat riya’. Misalnya dia begitu rajin beribadah, beramal, tahajud tengah malam dan shaum Senin Kamis tanpa hrs diketahui org lain, yakni dgn sembunyi2.

Ttp kemudian munculah sifat ujub (bangga diri) dgn bisikan kata, seumpama “tdk ada org sehebat aku, tengah mlm begini bertahajud”. Atau berucap “daripada menonton sepakbola ditv mending beribadah”. Pertama dgn berbuat spt itu dia sdh jatuh pada sikap “ujub” yakni merasa paling hebat. Kedua, dia menjelek2an org yg nonton sepak bola. Ada sebuah cerita ttg pengalaman Arifin Ilham …

Dia, pak Kiainya, bersama santri2 lain sama2 makan sahur Senin&Kamis, shaum sunnah. Siang hari jam 9 dtg wali santri dgn membawa makanan. Ketika wali santri menghidangkan makanan td, dia bilang bersama tmn2 santrinya ” maaf bapak, kami semua sedang dalam keadaan shaum”. Dengan rasa bangganya waktu itu bs shaum.

Begitu pak Kiai kluar dari kamar dan makanan dihidangkan, beliau tdk ngomong apa2 dan jg tdk melakukan sesuatu apapun, langsung dimakannya makanan itu, dan mereka diam semua. Selesai wali santri pulang, dia Tanya pada pak Kiai “Ayahanda td makan krn mengamalkan sunnah Nabi ya?” Mungkin krn menghormati tamu itu wajib, dan oleh karena itu akan mendapatkan 2 pahala, pahala shaum dan pahala menghormati tamu. ” Bukan” jwb beliau. Beliau sengaja mkn supaya wali santri tdk tahu beliau dlm keadaan puasa. Maksud pak Kiai ada kekhawatiran timbulnya sifat ujub itu sehingga puasanya sia2 atau sama sekali sama dengan tdk berpuasa. Atau minimal niat suci dan benar yg dilakukan sdh dinilai ibadah walaupun puasanya gagal di tengah jalan.

Kita harus waspada thd lereng2 curam yg berbahaya di sekeliling kt yang senantiasa menceburkan kt yaitu sifat ujub sbg perwujudan perangkap syaitan.

Sebnarnya kalau kt membuat garis hidup ini, maka hanya ada dua jalan; yaitu jln Allah dan jalan iblis. Karena itu kt diperintah untul berdzikir pada Allah, karena dgn berdzikir pdNya kt akan selalu dibimbing , ditolong, dan diselamatkan olehNya…..

May 23, 2006

dosa yg lebih hebat dr berzina

Posted in oase at 4:33 am by budiiiiiiiii

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidakdapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina”. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan
sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH > Abdurrahman Arroisy)
Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah.

Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

April 19, 2006

.:bercermin diri:.

Posted in oase at 4:59 am by budiiiiiiiii

asma.gif

Tatkala kudatangi sebuah cermin

Tampak sesosok yang sangat lama kukenal dan sangat sering kulihat

Namun aneh, sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat

 

Tatkala kutatap wajah. Hatiku bertanya

Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya dan bersinar indah di surga sana?

Ataukah wajah ini akan hangus legam di neraka jahanam?

 

Tatkala ku tatap mata, nanar hatiku bertanya.

Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan…

Menatap Allah, menatap Rasulullah, menatap kekasih2 Allah kelak?

Ataukah mata ini yang terbeliak, melotot, menganga, terburai menatap neraka jahanam….

Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan?

Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

 

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang kelak akan mendesah penuh kerinduan… mengucap “laa ilaaha ilaallah” saat malaikat maut datang menjemput?

Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur, dengan lengking jeritan pilu, yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar?

 

Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zaqun jahanam…. Yang getir, penghangus & penghancur setiap usus?

Apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang?

Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan?

Berapa banyak hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam?

Berapa banyak kata-kata manis semanis madu yang palsu yang engkau ucapkan untuk menipu? Betapa jarang engkau jujur………..

Betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Tuhan mengampunimu

 

Tatkala kutatap tubuh. Apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya…

Bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga?

Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur, mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpasung tanpa ampun, derita yang tak pernah berakhir…

 

Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan?

Berapa banyak orang-orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu?

Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu?

Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa banyak hak yang engkau rampas?

 

Ketika kutatap hai tubuh

Seperti apa gerangan isi hatimu

Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu

Apakah hatimu daun-daun yang mudah rontok

Apakah hatimu seindah penampilanmu

Ataukah sebusuk kotoran-kotoranmu…

 

Begitu beda…. Begitu beda….. apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi…

Betapa beda apa yang tampak di cermin dan apa yang tersembunyi..

Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah topeng belaka

Betapa pujian yang terhambur hanya memuji topeng

Sedangkan aku… hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus

 

Aku tertipu, aku malu ya Allah…

 

Allah………… selamatkan aku…….

 

Amien ya robbal a’lamiin

March 8, 2006

ketika kumemandangmu..

Posted in oase at 8:58 am by budiiiiiiiii

 ulet.gif

Rasulullah pernah bersabda > “jk secara tak sengaja pandangan seorang laki2 atau wanita mengenai seseorang yg bkn mahramnya, mendadak, maka hendaknya ia segera mengalihkan pandangannya. Pandangan pertama mmg tdk berdosa ttp pandangan yg kedua itulah yg berdosa. Ketika iblis mendorongmu utk memandang maka ia memberikan hiasan2 yg mbuat sesuatu yg sebetulnya tdk menarik menjadi menarik.

Sesungguhnya pandangan yg kedua makin mbuat jelas godaan. Org yg mengulang pandangannya itu mungkin melihat apa yg melebihi dugaannya, shg deritanya semakin bertambah. Iblis menggoda dan berusaha menjerumuskannya ketika ia ingin mengulang pandangannya utk yg kedua.

Perintah utk menundukkan pandangan mata ini tak dibedakan bagi lelaki dan wanita . Karena syariat islam menyamaratakanantar keduanya dlm mslh2 yg bersifat instingtif sejak penciptaan. Wanita adl saudara sederajat kaum lk2. Maka sebagaimana wanita bs terkagum2 kaum pria begitu pula pria bs terkagum2 kaum wanita. Shg wanita /lk2 bs tertarik syahwat ktk bertemu dgn lawan jenis.

Seorg yg memandang lawan jenis yg dgn sengaja diulang berkali2, hasil dari pandangan itu akan membekas dalam hati, kmudian hati mengangankannya lalu menginginkannya. Karena itu Rasul memperingatkan krn pandangan bs merusak hati, hati yg selalu ingat pada pandangan itu-bisa2 timbul syahwat yg tdk terkendali.

Pandangan adl panah beracun dari iblis.Hikmah pengharaman pandangan adl krn perbuatan itu mendorong kpd rusaknya ht. Angan2 dpt mendorong seseorang utk mengambil langkah ke jln yg haram. Karena itu Allah memerintahkan utk menjaga kemaluan. Juga memerintahkan menjaga pandangan yg merupakan factor pendorong kearah itu.

Rasulullah mnetapkan zina dua mata adl pandangan, kemudian jiwa mgangankannya dan menginginkannya. Mungkin pepatah itu bnr “dari mata turun ke hati” krn itu rasul melarangnya.. pandangan itu akan terangan2, sholat jd tdk khusyu ht mjdi gundah gulana…

 

Allah berfirman (an-nur 30-31)

 

“katakanlah kpd org lk2 yg beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian adl lbh suci bg mrk. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yg mrk perbuat. Katakanlah pd wanita yg beriman. Hendaknya dia menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”

 

Nabi SAW bersabda bahwa menundukkan pandangan dan mjaga kemaluan adl jalan menuju surga. Rasul mjamin surga bagi semua muslim dan muslimah yg mjaga pandangan mat dan kemaluannya:

“Jaminlah 6 hal dari diri kalian kepada diriku, niscaya aku jamin surga bg kalian, Yaitu, jujurlah jk kalian berbicara, penuhilah jk kalian berjanji, tunaikansesuatu yg diamanatkan pd kalian, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian, dan jglah tgn kalian (dari melakukan dosa) (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi)

 

Beliau bersabda :

 

“Pandangan mata adl panah beracun dr iblis, siapa yg meninggalkannya krn tkt pd Allah, maka Allah akn mberikannya kenikmatan yg dirasakan dlm hatinya”

Manisnya keimanan dan kelezatannya itu lbh nikmat dan lebih baik dr objek pandangan mata yg ia hindari utk dilihat, yg ia lakukan demi mencapai keridhaan Allah. Barangsiapa yg mninggalkan sesuatu karena Allah , mk Allah akn mberikan ganti yg lbh baik.

 

Rasul bersabda :

 

“Semua mata pd hari kiamat menangis, kecuali mata yg mnahan pandangannya dari hal2 yg diharamkan Allah. Mata yg begadang di jln Allah dan mata yg keluar air matanya spt kepala lalat krn takut pd Allah” (HR. Abu Nu’aim)

 

Hikmah2 mjaga pandangan :

1. Jln utk mjaga hati

2. Mnutup pintu fitnah

3. Mbebaskan ht dr penyesalan

4. Mbukakan jln & pintu2 ilmu pengetahuan

5. Mewariskan ketetapan firasat dan cahaya hati

6. Akn diganti Allah dgn mencahayakan htnya

7. Mewariskan kekuatan, keteguhan dan kberanian dlm ht

8. Mwariskan kbahagiaan & kegembiraan yg lbh bsr dlm htnya

9. Mbebaskan hati dari tawanan syahwat, hawa nafsu dan kelalaian

10. Menutup satu pintu neraka

 

Begitu byk hal2 yg merusak hati kt- Rasulpun sudah memperingatkan kt utk mjahuinya dan Allahpun sdh mjamin dgn surgaNya, Apakah kt msh ttp melanggarnya? Memang tdk mudah menjaga kebersihan ht kt dgn menahan pandangan mungkin krn kt blm biasa, namun ada pepatah bilang “org bisa krn biasa” Marilah kt sama2 mbiasakan diri untuk mjaga hati dgn menahan pandangan krn ingin mengharap ridhoNya… InsyaAllah

 

Semoga tausyah ini bermanfaat walaupun Cuma sepenggal kata. Bukankah Rasul mengajarkan agar kt myampaikan ilmu walau satu ayat…….

 

beratkah berucap, terima kasih??

Posted in oase at 5:16 am by budiiiiiiiii

Sudahkah kalimat “terima kasih” selalu terhadiahkan kepada setiap orang yang pernah membantu Anda? Jika ya, maka Anda tak perlu khawatir, karena saya tidak sedang berbicara tentang Anda. Tapi tentang orang-orang di sekitar kita, dan mungkin saja termasuk saya.Nyaris setiap hari, setiap jam dalam hidup kita selalu dibantu oleh pihak lain, disadari atau tidak. Sejak awal bangun pagi, sudah ada pembantu yang memasak air panas untuk menyeduh kopi, bahkan kopi sudah tersedia sebelum kita beranjak dari tempat tidur. Berangkat ke kantor dengan pakaian yang tidak kusut, tentu ada yang menyetrikanya. Sepatu pun sudah disemir mengkilap, bukan bim salabim
kan? Sampai sarapan sudah siap tersaji di meja makan sebelum kita meminta. Bukan soal siapa yang menyiapkannya, bisa jadi sang isteri lihai nan sigap yang melakukan itu semua, atau pembantu kita yang super hebat. Tapi terpenting dari soal siapa adalah, berterima kasihkah kita untuk setiap pelayanan memuaskan itu?

Keluar dari rumah, entah dengan sopir pribadi yang telah mencuci bersih mobil dan menyiapkan kendaraan agar tak ngadat di jalan, sehingga kita tak terlambat tiba di kantor. Atau bagi orang yang harus menggunakan jasa angkutan umum untuk dari dan ke kantor, pernahkah kalimat “terima kasih” juga terucap kepada kondektur atau sopir angkutan umum yang kita tumpangi?

Tiba di kantor, tak perlu bertanya siapa yang sudah datang lebih pagi membersihkan meja kerja yang kemarin sore kita tinggalkan dalam keadaan kotor dan berantakan. Air putih atau teh hangat sudah tersedia di meja kerja, bahkan menjelang siang pun kita masih berteriak, “Jang, kopi susu donk,” kepada office boy yang setia melayani. Apakah si Ujang pelayanan setia kita di kantor itu selalu mendapatkan hadiah “terima kasih” untuk air putih dan kopi susu yang ia sajikan? Walau pun ia tahu, menuntut ucapan “terima kasih” bukanlah haknya.

Rasanya, nyaris seluruh hidup kita dari pagi sampai pagi kembali selalu dibantu orang lain. Bahkan di rumah pun, saat lelah menyengat sepulang kerja, serta merta sang isteri dibantu si kecil membukakan sepatu dan kaus kaki, kita pun berpikir, itu sudah kewajiban mereka; Melayani kita yang bekerja seharian. Andai isteri mendengar kalimat itu, mungkin ia akan berujar, “Kamu pikir saya di rumah hanya tidur-tiduran saja?”

Saya pun tergelitik untuk menghitung berapa banding berapa antara pelayanan yang saya dapatkan dengan ucapan terima kasih yang terlontar. Saya sering lupa berterima kasih kepada isteri yang setiap malam menemani saya tidur, atau berterima kasih kepada Si Euceu yang setiap pukul 05.30 sudah datang untuk membantu isteri saya mencuci pakaian. Saya sering lupa berterima kasih kepada petugas pom bensin yang sering mengisi full tangki motor saya. “Itu memang pekerjaannya, dan kewajiban saya sudah selesai hanya dengan memberikan sejumlah uang sesuai jumlah bensin terisi,” mungkin begitu pikir nakal saya. Mana rasa terima kasih saya?

Kita sering kali berpikir, bahwa orang-orang yang memberikan bantuan dan pelayanan sehari-hari itu memang sudah selayaknya dan kewajiban mereka berbuat demikian. Isteri dan anak-anak, misalnya. Wajib memberikan service penuh karena kita merasa sudah lelah seharian bekerja, “Toh gaji sebulan saya bekerja singgah di dompet isteri,” begitu alasan kita. Pembantu rumah tangga yang seringkali tak kenal lelah bekerja dari pagi hingga kembali pagi, dinilai “wajib” mengerjakan semua pekerjaannya karena kita merasa sudah membayarnya. Padahal, nilai bayarannya seringkali tak layak dan jauh dari beratnya pekerjaan yang diemban. Bukankah pembantu hanya membantu? Lalu kenapa semua pekerjaan rumah ia yang mengerjakannya? Tak pantaskah ia memperoleh ucapan terima kasih dari kita?

Ujang sang office boy kantor yang tak pernah menolak permintaan kita, percayalah, “terima kasih” yang kita ucapkan saat ia mengantarkan segelas air putih atau teh hangat akan membuatnya senang setiap kali kita memintanya kembali. Boleh jadi, ucapan terima kasih itu akan sedikit menghiburnya dari kemurungan setiap kali menerima upah bulanannya yang tak seberapa dari gaji kita. Bahkan ada sopir angkutan umum yang termangu sesaat hanya karena mendengar ucapan terima kasih saat penumpang memberikan ongkos. Bisa jadi, ia baru saja menemukan manusia langka. Atau jangan-jangan, itu kalimat “terima kasih” pertama yang ia dapatkan sepanjang tahun berprofesi sebagai sopir angkot.

Sudahlah tak pernah berterima kasih, kadang kita menambahi sikap kita dengan banyak menuntut. Merasa sudah membayar gaji pembantu, kemudian kita berhak membentak-bentak wanita berbayaran kecil itu hanya karena masih ada sedikit noda di kemeja. Kita juga marah-marah kepada office boy yang lambat mengantarkan minuman, atau kepada sopir angkot yang secara tak sengaja melewatkan beberapa meter saja dari tempat berhenti kita semestinya. Lalu, kita memberikan ongkos dengan hati kesal dan wajah kecewa.

Tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah orang lain lakukan untuk kita, dan kita senantiasa menuntut lebih dari orang lain. Meminta orang lain melakukan lebih banyak, lebih baik, lebih sering dari yang sudah dilakukannya. Orang lain melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, kita lebih dulu marah, dan kemudian lupa mengucapkan terima kasih. Ucapkanlah terima kasih lebih dulu, baru kemudian beritahu kekurangan atau kesalahan secara baik-baik. Dijamin, mereka akan mengerjakannya lebih baik tanpa wajah merengut.

Tidak berterima kasih dan banyak menuntut adalah sebuah circle, keduanya saling berkait berkelindan. Biasanya kedua sikap ini tidak terpisahkan, setiap kali kita tidak berterima kasih, mesti diiringi dengan tuntutan. Atau sebaliknya, setiap kita mengajukan tuntutan, hasil yang kita dapatkan dari tuntutan itu kita anggap sebagai hak. Karenanya, “terima kasih” tak perlu terucapkan.

Ironisnya, budaya buruk ini pun kita berlakukan terhadap Allah. Kita terus menerus berdoa dilimpahkan rezeki. Hanya karena rezeki yang didapat hari ini tidak berlimpah, lalu dalam doa selanjutnya kita berujar, “Ya Allah, kok cuma segini?” Sungguh, bersyukur dan bersabar lebih menjauhkan kita dari ancaman azab dan siksa dari-Nya. ***

== Bayu Gawtama ==

March 2, 2006

puisi indah dari rendra..

Posted in oase at 9:44 am by budiiiiiiiii

ilang.jpg

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

= WS. RENDRA =

March 1, 2006

mereka yg kurindu..

Posted in oase at 9:32 am by budiiiiiiiii

“kulayangkan pandangku melalui kaca jendela

dari tempatku bersandar seiring laju kereta

membawaku melintasi tempat-tempat yang indah

membuat hidupku jadi penuh riuh dan berwarna

kulepaskan rinduku setelah aku kembali pulang…” –padi,…g tau judulnya ^ ^

Sepanjang Tegal-Jakarta, yang ada di kepala hanya mereka yang kurindu.

Yang wajah-wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang masing-masing wajah punya cerita bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Merekalah yang kurindu.

Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkdang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan mereka. Merekalah yang kurindu.

Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang telponnya selalu kutunggu tiap malam. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Mereka itu yang kurindu.

Yang ketiadannya membuatku sepi, sepi yang mengiris hingga ke ulu hati. Yang rasa sepinya selalu membuatku menangis di tiap kali sujud. Yang dalam tiap kali tangis, nama merekalah yang terucap dan doa Robitoh kupanjatkan. Mereka semua yang kurindu.

Yang tiap kebaikannya selalu kukenang. Yang tiap amarahnya selalu menyadarkan. Yang doa mereka selalu mengiringku berjalan. Yang selalu ada maaf setiap kali aku salah. Mereka adalah orang-orang yang kurindu.

Yang selalu temaniku di tiap langkahku di jalan-jalan yang asing. Yang selalu meramaikan hidupku yang terkadang sendiri. Yang selalu bercerita tentang cinta. Yang selalu membuatku bahagia. Mereka itu yang kurindu.

Yang selalu ada di hati dan takkan pernah mati. Yang tiap kejadian bersama mereka akan selalu abadi. Yang tak pernah benci walau sudah kusakiti. Yang siap setiap saat tiap kali kumencari. Yang mengajariku tentang cinta yang hakiki. Mereka semua sangat kurindu.

Yang mendukungku tiap kali aku mulai lompatan besar. Yang menyokongku dengan doa, cinta dan kasih sayang. Yang menggandengku di masa-masa gelap, dan melepasku kala aku siap. Yang menangkapku tiap kali aku jatuh. Yang mengobatiku tiap kali aku sakit. Yang memelukku tiap kali aku menangis. Sungguh, mereka semua yang kurindu.

Yang menertawaiku tiap kali aku melakukan hal-hal bodoh. Yang bercanda bersamaku. Yang merasakan apa yang kurasa. Yang ikut menangis bila aku menangis, yang ikut bahagia tiap kali aku menang. Yang menjadi tempatku mengadu tiap kali aku kalah. Yang dengan seluruh tenaga akan mendorongku untuk kembali berjuang. Mereka-mereka itulah yang kurindu.

Yang seiring sejalan bersamaku. Yang setia menemaniku mengarungi hidup. Yang menegurku tiap aku silap. Yang banyak mengajariku hal-hal yang berguna. Yang selalu menegarkanku. Yang selalu menjagaku dari segala yang mungkin menyakitiku. Yang selalu melindungiku selama aku tumbuh. Yang membuatkanku benteng penuh cinta agar kudapat tumbuh dan hidup dengan nyaman dan aman. Mereka-merekalah yang kurindu.

Yang akan kuberikan terbaik dari yang kumiliki. Yang akan selalu kubagi apa yang kupunya. Yang seluruh cinta dan rasa sayangku kuberi untuk mereka. Yang ingin kulindungi dan selalu kujaga. Yang ingin selalu kubuat bahagia, tersenyum dan tertawa. Yang ingin selalu kuiringi. Yang akan kuhibur tiap takut mencekam. Aku merindukan mereka.

Di sepanjang rel ini aku tersenyum. Senyum penuh bahagia karena tahu sebentar lagi akan bertemu dengan orang-ornag yang kurindu, kusayang dan kucinta. Di tempatku tumbuh besar yang kusebut rumah. tempatku kembali pulang…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.