March 29, 2011
.: lamunan dikala sepi :.
Tak terasa hampir satu tahun sudah aku menetap di bumi borneo ini, tepatnya di palangkaraya – Kalimantan tengah. karena alasan tugas kedinaslah akhirnya kami mau tidak mau harus menetap dsini, dengan segala keterbatasan yg ada. Kadang sesekali perasaan jenuh pun mulai merasupi dalam diriku, sampai kpn kira2 ku akan disini. Kadang prasaan rindu suasana kampung halaman pun membayang dlm pikiranku.. entah kapan terakhir kali aku dan anak istriku jalan2 pagi di tengah sawah, smbil mengayuh becak kecil yg aku kayuh sendiri. Sambil menghirup udara segar pagi hari, dan sambil menunggu kereta api lewat yg slalu dinanti2 anakku. Walapun terasa lelah, namun itu sebuah kenikmatan dan kebahagiaan yg tak ternilai ketika bs melihat anak istri tersenyum bahagia. Kadang tersirat jg dlm benakku kpn kita bs berenang lg di pantai bersama anak2, sambil bermain2 di derunya ombak, atau bermain2 pasir di tepian pantai.. atau jalan2 ke pegunungan dan mandi air panas di sana sambil menikmati sejuknya udara pegunungan….??? hhhmm sebuah angan2 yang sulit sekali dpt terwujud dsini, karena dsini tdk ada lg sawah, tdk ada lagi pantai, dan juga pegunungan..
May 7, 2010
Dunia baru, tantangan baru..
tiga hari sudah aku menginjak bumi suku dayak untuk menetap di sini, entah sampai kapan.. Palangkaraya, tempatku bertugas yang baru sejak 4 April 2010 aku tinggal di sini. dengan segala keterbatasan yang ada, ku coba paksakan untuk bertahan. Aku yang sudah terlena dengan kehidupan jakarta yang serba mudah dan enak, kini harus menghadapi kenyataan dengan segala kekurangan. Dulu aku selalu bisa tidur nyaman dengan sejuk nya udara di kamar ber-AC,kini aku tidur harus bertelanjang dada karena panasnya udara di palangkaraya. Dulu pulang kerja selalu disambut dengan tawa senyuman anak istri dan tentu segelas teh hangat penawar lelah, kini semua tak ada lagi..
Bayang-bayang anak dan isteri di rumah yang selalu muncul dikala aku sedang sendiri menjadi beban terberat. Gelak tawa dan canda anak2 di saat sedang main bersama selalu muncul dalam ingatanku.. Bunda,Zidan, Daffa.. ayah kangen sm kalian..
hhhhh… tp aku sadari, inilah resiko menjadi seorang PNS di dep. Keuangan, selalu hidup berpindah2, susah untuk membina keluarga yang nyaman..
Aku berharap tidak akan berlama2 dsini, semoga bs cepat2 pulang ke tanah jawa lagi.. mohon doa nya yah..
April 22, 2010
Manis tapi pahit..
Seperti baru kemarin saja aku masuk ke ruangan ini.. saat itu dengan gaya masih kekanak-kanakan dan sedikit lugu aku menghadap salah seorang atasan di bagian keuangan untuk melaksanakan tugas ditempat ini.. agak canggung awalnya karena dunia yang sekarang aku hadapi beda bgt dengan duniaku di luar sana. di sini aku bergaul dengan orang2 yg rata2 lebih pantas menjadi ayah dan ibuku, smentara d luar sana aku dengan puasnya bercanda ria bersama teman2 sebayaku.. hhhhh, itulah peristiwa yang terjadi 9,5th yang lalu, awal dimana aku memulai karir sebagai seorang PNS di Departemen Keuangan..
ada awal, ada akhirnya pula.. sekarang tiba waktunya buat aku untuk meninggalkan ruangan ini, bagian keuangan KP.DJKN (Dept. Keu). 9,5th kita bersama, dsini aku merasakan senang dan sedih (banyak senangnya). di tempat ini pula aku bs menemukan jati diri dan membuatku merasa lebih nyaman..
Mungkin bagi sebagian orang mendapat promosi jabatan adalah suatu kebanggaan, kebahagiaan dan jg gengsi.. tp aku sm skali tdk merasakan hal yg sperti itu, buat aku kebahagiaan itu apabila kita dapat hidup nyaman, tenteram, selalu di kelilingi dengan orang2 yang kita cintai, dan tidak kekurangan suatu apapun, itu saja.. tdk perlu dengan embel2 jabatan eselon.
saat ini tiba waktunya buat aku untuk pergi ke pulau seberang, jauh meninggalkan keluarga dan teman2 semua.. apakah ada jaminan kl aku dsana bs hidup nyaman walau jauh dr kluarga? apa ada jaminan kl aku dsana msh bs tertawa brcanda brsama tmn2 baruku? apa ada jaminan kl aku dsana bs hidup bahagia???? tp aku seorang biasa yg tak bs melawan keputusan para pejabat di atas.
July 29, 2009
Menata serpihan yang terurai..
Hidup memang penuh warna, silih berganti mengisinya. ada saat kita merasa bahagia hingga membuat kita tertawa, namun ada pula saat kita merasa sedih hingga membuat kita menangis. pernahkah anda memikirkan knp hal seperti itu silih berganti menghampiri kita menghiasai hidup kita? Saat kita dilanda kemalangan, sebagian dari kita merasa Allah tidak adil, saya selalu menjalankan perintahnya, tp knp Allah memberikan cobaan yg begitu berat?? sebagian dari kita lupa kalau Allah itu Maha Adil, semua orang akan merasakan cobaan dan ujianNya, dan tidak hanya merasa selalu bahagia..
apakah kita akan menjadi seorang yang selalu bersukur disaat cobaan menghampiri hidup kita? aku jg bukan seorang yang sempurna yg tak luput dari dosa, yang seringkali lalai tuk slalu bersyukur atas nikmat dan akruniaNYA..
February 19, 2009
Hitam dan Putih
Dua warna di atas yang saling bertolak belakng sering kali dijadikan perumpamaan untuk menggambarkan kebaikan dan kebatilan. Kasihan sekali si hitam yang selalu dicap jelek dan dianggap salah oleh semua orang. Padahal si putih juga tidak selamanya benar. Bahkan kadang kebersamaan mereka dapat menciptakan kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri buat kita.
Seperti secangkir kopi hitam misalnya, dengan tambahan sedikit gula yang putih mungkin akan terasa lebih nikmat di lidah kita. Atau selembar kertas putih tak akan banyak memberi manfaat tanpa adanya tinta hitam yang akan menggoreskan catatan-catatan di atasnya. Yah, memang segala sesuatu tak bisa selalu dinilai dari luarnya saja.
February 26, 2008
kenapa tak semeriah valentine..???
Sempatkah anda berjalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan di awal atau pertengahan bulan Februari ini??? jika ya, pasti anda akan menemukan nuansa yang berbeda dengan hari-hari biasanya. awal bulan februari tahun baru china (imlek) tiba. Acara besar kaum bagi tionghoa. hampir smua mall mendandani dirinya dengan bermacam-macam aksesoris berwarna merah.. acara pagelaran seni barongsai pun ada di mana-mana.
Kemudian giliran pertengahan bulan februari tanggal 14 tepatnya, hari Valentine, yang katanya hari kasih sayang sedunia tiba. Warna merah pun berubah menjadi pink, semua serba pink. beragam aksesorispun laris manis diburu para remaja ABG yang rame-rame ikut merayakannya. dari mulai bunga mawar, coklat, dll sebagai tanda sayang buat pasangannya.. gak cuma di mall, acara televisipun marak menayangkan serial film yang bertemakan kasih sayang, atau menggelar pertunjukkan2 untuk merayakan hari kasih sayang tersebut.
Tapi apa kita pernah merenung??? jika kita mau melihat sebulan sebelumnya, kita umat muslim juga merayakan tahun baru islam 1 muharam. tapi begitu bedanya tahun baru ini dengan dua acara di atas. padahal mayoritas penduduk indonesia adalah umat muslim.. tapi kok terasa biasa-biasa aja, bahkan tidak sedikit diantara kita mungkin gak tahu kl hari libur tanggal 10 Januari adalah untuk memperingati tahun baru islam… ada apa gerangan????
October 30, 2007
Selamat datang jagoanku..
Sembilan bulan lebih dia bersemayam dalam rahim istriku. mungkin buat sebagian orang masa 9 bulan tersebut gampang untuk dilewati, tapi tidak demikian dengan istriku. Beliau sempat harus istirahat total (bed rest) pada 3 bulan pertama karena maghnya kambuh. setelah itu banyak lg keluhan-keluhan lain yang orang biasa bilang ngidam. Jauh-jauh hari pun kita berusaha menyiapkan semua untuk menyambut kehadiran sang jabang bayi. dari mulai persiapan beli popok,baju bayi,kasur,selimut, sampai kereta bayi tak lupa kita siapkan. kontrol ke dokter kandungan tiap bulan pun tak lupa dr jadwal bulanan kita.
Hari ini sabtu, 27 oktober 2007 pukul 14.15 WIB saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jagoanku menangis dengan lantangnya menghirup udara alam bebas, dengan diiringi tangisan haru dan bahagia ayah bundanya. terima kasih ya ALLAH atas karuniaMU. hari ini Kau berikan Kami titipan yang tak ternilai, berilah kami kekuatan untuk menjaganya.
August 22, 2007
ayah…..
Ayah….Maafkan aku…
Dear All,
Buat semua yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua…. Ingatlah….semarah apapun, janganlah kita bertindak berlebihan… Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu apa2.
Ini ada kisah nyata yg berjudul “Ayah, kembalikan tangan Dita………”
Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.
= lupa ngutip dari mana…:( =
April 2, 2007
.:kisah pohon apel:.
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
March 5, 2007
maafkan & lupakan

